Status: Love Search.. *part deux
October 25, 2010 Leave a comment
“You can’t find love. It will find you. It’s not about who, it’s about when“
Kalimat itu ternyata benar – benar bertuah. Cinta memang akan datang di waktu yang tepat. It’s not about who. It’s about when. Cinta bukan tentang ‘siapa’, cinta hanya tentang soal waktu.
10 Agustus 2010. Dia seperti dijatuhkan dikenalkan Tuhan kepadaku. Perkenalan yang begitu cepat. Malah hanya cukup sekedar berjabat tangan saja. Nggak bisa ngobrol banyak. Bagaimana bisa ngobrol banyak, kalo kami berada di tengah – tengah ‘massa‘ yang ramaiĀ mengomentari kami..
. Intinya, perkenalan itu tak jauh beda dengan perkenalanku dengan orang lain. Berjabat tangan – basa basi secukupnya – berpisah – lalu lupakan…
Tapi ternyata perkenalan itu masih ada lanjutannya. Karena pada pertemuan sebelumnya kami sempat bertukar nomor telepon, maka proses kenalan yang sempat terganggu ‘keramaian massa‘ pada saat hari H perkenalan itu, dilanjutkan via sms dan telpon. Dan siapa yang menyangka, ternyata dia adalah pribadi yang menyenangkan….
15 Agustus 2010. Perkenalan itu mengalami lompatan yang luar biasa. Tanpa disangka, tanpa diduga… Tak ada angin, tak ada hujan.. Dia ingin membuat komitmen denganku. Nope.. He didn’t say he loves me. Dia hanya bilang merasa nyaman bersamaku, dan mempertimbangkan aku untuk menjadi istrinya.. WHAAAT…. ?!!!
Surprise?!! Udah pasti lah..!!
Apalagi, tema yang dia bicarakan adalah tema ‘dewasa’ yang (saat itu) belum terjangkau pikiranku. Semua pembicaraanny sudah menjurus tentang pernikahan, tujuan hidup, visi misi dalam berumah tangga… oh my….^$&#(#$*%#^ *pusing* :-s… Apa maksudnyaaaaaa?!!!
Untunglah, rupanya aku punya juga sedikit kedewasaan, dengan tetap bersikap kalem, cool, tenang (padahal dalam hati jumpalitan gak karuan). Aku berusaha mengikuti arah pembicaraannya. Aku jawab semua pertanyaannya yang udah kayak dosen penguji pendadaran. Well, sebenernya itu tak bisa disamakan dengan ujian pendadaran. Karena kalo ujian pendadaran, aku masih sempat memiliki kesempatan untuk belajar dan mempersiapkan jawaban untuk setiap pertanyaan yang diajukan. Nah ini…????
“Apa tujuan hidupmu?” Itu pertanyaan pertamanya.
“Mencari ridho Allah” Jawabku setelah mikir beberapa saat. Dan kayaknya jawabanku benar, karena ‘penguji pendadaran‘ dadakan itu lalu melanjutkan ke pertanyaan berikutnya.
“Kalo tujuan menikah, apa?”
HEEE???? Aku tak tahu bagaimana tampangku waktu itu ketika mendengar pertanyaan itu meluncur dari bibirnya. Tapi.. teteup.. dengan ketenangan yang sudah ku setel di level maksimum, aku menjawab “Mencari ridho Allah juga lah“. Dan kurasa, jawabanku bener lagi. Alhamdulillah… hehehehe..
Intinya, hari itu, 15 Agustus 2010, adalah hari bersejarah buatku. Hari itu, aku melakukan obrolan dewasaku untuk yang pertama kalinya..
. Dan dengan orang yang saat ituĀ masing sangat asing pula bagiku. Kami membicarakan tentang inti pernikahan, esensi hidup.. woow.. Obrolan yang tadinya kupikir masih sangat tidak terjangkau olehku..
Dan tau tau, by the end of that day… Aku sudah memberikan janjiku pada seseorang. Bukan janji sembarangan. Janji untuk berkomitmen, untuk saling percaya, saling mengenal pribadi yang sama sekali baru, untuk saling jujur. Sungguh janji yang paling serius yang pernah kuberikan pada seseorang.
Dan pada hari itu, aku punya pacar… untuk pertama kalinya….
Note: demi asas efisiensi dan efektifitas, cerita diatas telah diedit secara sepihak dari penulis. <Buat mas Irfan, semoga aku gak salah kutip obrolan kita waktu itu.. hehehhe..>